Selasa, 23 November 2010

Death Bell - Bel sekolah tanda kematian

Untuk beberapa tahun terakhir ini, sepertinya para sineas Korea Selatan kurang antusias dalam menggarap sinema horor. Berbeda dengan di awal-awal dekade ini misalnya, dimana industri perfilman Korea seolah-olah dibanjiri oleh horor. Akhir-akhir ini justru secara kuantitas genre horor bisa dihitung dengan jari saja. Hal ini mungkin disebabkan karena terjadi penurunan pemasukan secara signifikan untuk film sejenis ini yang mungkin saja disebabkan terjadinya degradasi baik dari segi ide dan kreatifitas. 

‘Death Bell’ atau ‘고死 – Gosa’ adalah dari yang sedikit film horor yang dirilis di tahun-tahun terakhir ini, dan beruntung karena lumayan sukses secara komersial (meraih lebih kurang 1.6 juta penonton). Pastilah ada yang istimewa dari film arahan Chang (yah, namanya di poster film memang tertulis cukup begitu, padahal bernama asli Yoon Hong-seung).

Sekelompok siswa dari sekolah elit terpilih berdasarkan peringkat nilai ujian untuk memperoleh bimbingan khusus guna memeroleh bangku di perguruan tinggi favorit. Di bimbing oleh dua orang guru, Bapak Chang-wook yang ramah (Lee Beom-soo, ‘My Wife is a Gangster 3′) dan Ibu So-young (Yoon Jeong-hee) yang sedikit dingin dan kaku. Dua orang sahabat, si tomboy Ina (Nam Gyu-ri) dan si lembut Myong-hyo (Son Yeo-eun). 

Saat bimbingan dimulai, tiba-tiba layar televisi dikelas memperlihatkan tayangan teman mereka yang terjebak disebuah tangki akuarium. Sebuah suara melalui pengeras suara lantas memperintahkan mereka untuk menyelesaikan sebuah soal. Jika mereka tidak mampu, maka Hye-yeong, nama siwi tersebut, akan mati (mengingatkan akan SAW saudara-saudara?). Sialnya mereka gagal dan Hye-yeong pun tewas. Akhirnya mereka pun mulai menyadari keseriusan ancaman si suara misterius tersebut. 

Satu persatu dari mereka diculik, berdasarkan peringkat nilai ujian. Dan teman-teman yang tersisa harus memberi jawaban dari sekumpulan soal, atau siswa yang diculik akan mati. Pada akhirnya, selain berusaha memecahkan soal, mereka juga berupaya menyingkap misteri sang dalang prilaku keji tersebut!

Pada awal film, Chang seolah-olah mengindikasikan jika filmnya akan bergenre atmosferik, dengan pemunculan hantu perempuan berambut panjang. Namun, saat film mulai bergulir, terbukti jika tortured-porn ala seri SAW menjadi pedoman sejati dari film ini. Bahkan beberapa elemen dari subgenre slasher juga mendominasi. Film lantas menjadi sebuah adu ajang kecerdikan, tebak-tebakan dan gorevaganza

Meski mempunyai ide yang unik, namun secara umum plot dari ‘Death Bell’ mengandung beberapa kelemahan yang cukup signifikan. Misalnya, kenapa para murid ini percaya saja jika mereka akan sulit keluar dari sekolah, meski ada ancaman dari sang pembunuh. Lantas, trik-trik muslihat si pembunuh juga terasa kurang masuk akal dan mengandung unsur kebetulan yang luar biasa, sehingga rencananya dapat berjalan dengan mulus. Belum lagi twist di akhir film yang terasa menggelikan!

Terlepas dari itu, Chang cukup kompeten dalam menggarahkan aliran filmnya secara menarik. Film tidak membosankan dan tetap mampu membuat kita tertarik untuk terus terlibat didalamnya. Beruntung ia mempunyai Lee Beom-soo. Aktor senior ini memainkan peranannya dengan menarik dan memberi realitas dalam absurditas ceritanya. 

Dengan begitu, ‘Death Bell’ memang menjadi lumayan menarik, akan tetapi tidak cukup menarik sehingga wajib untuk ditonton bagi penggemar horor. Namun, dengan sepinya K-Horror akhir-akhir ini, ‘Death Bell bolehlah menjadi pilihan. 

Oh ya, di tahun 2010 ini sudah dirilis pula sikuel film yang berjudul ‘Death Bell 2: Bloody Camp’. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar